Syiah tentang Dua Belas Imam

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Aali Sayyidina Muhammad

Ada dua mazhab besar dalam Islam: Sunni dan Syiah. Perkara siapa yang harus dirujuk sepeninggal Rasulullah Saw menjadi perbedaan mendasar kedua mazhab itu. Sunni berpegang pada mayoritas sahabat. Syi’ah berpegang teguh pada Ahlul Bait dan ‘itrahnya. Keluarga terdekat dan keturunan Sayyidah Fathimah Az-Zahra’ dinamai ‘itrah. Inilah yang dikenal dengan dua belas imam Ahlul Bait.

Hadits Peninggalan Rasulullah Saw

 
Keyakinan Syiah berpegang teguh pada Ahlul Bait dan ‘itrahnya didasarkan pada hadits-hadits shahih. Diantaranya hadits al-tsaqalayn (dua pusaka) dan hadits al-khalifatayn (dua khalifah). Semuanya justru tercatat dalam kitab-kitab hadits karya ulama Sunni. Misalnya di bawah ini.

Redaksi al-Tsaqalayn

 
Dalam kitab Mu’jam Al-Kabir, jilid 5, halaman 169-170, hadits no. 4980, berikut:

حدثنا علي بن عبد العزيز، ثنا عمرو بن عون الواسطي، ثنا خالد بن عبد الله، عن الحسن بن عبيد الله، عن أبي الضحى، عن زيد بن أرقم ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله وعترتي أهل بيتي ، وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض.

Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka yaitu Kitab Allah dan ‘itrahku Ahlul Baitku. Sungguh keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di haudh (telaga surga).”

Redaksi al-Khalifatayn

 
Dalam kitab Musnad Ahmad, jilid 35, halaman 456, hadits no. 21578, berikut:

حدثنا الأسود بن عامر، حدثنا شريك، عن الركين، عن زيد بن ثابت، قال:  قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:  إني تارك فيكم خليفتين : كتاب الله، حبل ممدود ما بين السماء والأرض – أو ما بين السماء إلى الأرض – وعترتي أهل بيتي، وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض.

Dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (pemimpin) yaitu Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang antara langit dan bumi… dan ‘itrah Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku di haudh (telaga di surga).”

Ada pula hadits Nabi Saw dari Zaid bin Arqam dalam kitab Sunan Tirmidzi, no. 3788 dengan awal redaksi sebagai berikut:

إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي…

“Sungguh aku tinggalkan untuk kalian yang jika berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan tersesat sepeninggalku…” (yaitu Kitab Allah dan ‘itrahku Ahlul Baitku).

Dan masih banyak hadits semakna dalam berbagai kitab hadits. Itulah wasiat terpenting Rasulullah Saw untuk umatnya. Ia sangat penting karena sebagai jaminan agar tidak tersesat. Kitab Allah (Al-Qur’an) dan itrah-Ahlul Bait. Keduanya menjadi pusaka dan khalifah bagi umat Islam.  Rasulullah Saw mendampingkan dua pusaka itu. Tidak akan berpisah. Satu ikatan suci.

Bagaimana mungkin memahami Al-Qur’an dengan benar tanpa merujuk pada pendampingnya? Al-Qur’an dan ‘itrah-Ahlul Bait ibarat dua sayap. Burung dapat terbang dengan baik kalau menggunakan dua sayapnya. Hanya menggunakan satu sayap membuatnya terombang-ambing. Bahkan sangat sulit untuk terbang. Begitu pula dua pusaka saling mendampingi. Kita sangat sulit “terbang” meraih pemahaman benar kalau hanya merujuk pada salah satunya.

‘Itrah-Ahlul Bait harus dijadikan pedoman pendamping Al-Qur’an. Lantas siapa yang dimaksud ‘itrah dalam hadits-hadits di atas? Mungkinkah Rasulullah Saw meninggalkan sesuatu tapi tidak menjelaskannya sehingga umatnya kebingungan? Tidak. Sulit dipercaya kalau Rasulullah Saw menjelaskan tentang adab pakai sandal, berpakaian, berjalan, makan minum di satu sisi. Namun di sisi lain tidak menjelaskan mengenai siapa pedoman keselamatan yang diwasiatkan.

Telah masyhur hadits, “Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya…”. Dinilai shahih oleh para ulama hadits: Yahya bin Ma’in, Al-Hakim, Muttaqi Al-Hindi, dan Ahmad bin Shiddiq Al-Maghribi. Minimal status hadits ini hasan. Bukankah untuk sampai kepada Allah Ta’ala harus melalui Rasulullah Saw? Allah Ta’ala mewahyukan Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an ada perintah shalat namun tak disebutkan jumlah rakaatnya. Tanpa merujuk pada Rasulullah Saw kita tidak akan tahu jumlah rakaat shalat. Begitulah posisi Imam ‘Ali. Ia sebagai pintu masuk kota ilmu. Melaluinya makna sabda-sabda suci Rasulullah Saw terjelaskan.

Tanpa merujuk pada Imam ‘Ali kita tidak akan tahu siapa yang dimaksud ‘itrah. Kami tak menemukan satu riwayat pun dari semua sahabat yang menjelaskan sabda Rasulullah Saw itu, kecuali Imam ‘Ali. Dalam kitab Ma’ani al-Akhbar, halaman 90-91 tercatat riwayat shahih no. 4 berikut:

عن أبيه الحسين عليه السّلام قل: سئل أمير المؤمنين عليه السّلام عن معنى قول رسول الله صلى الله عليه و اله: {إنّي مخلّف فيكم الثقلين: كتاب الله و عترتي} من العترة؟ فقال: أنا، و الحسن، و الحسين، و الائمّة التّسعة من ولد الحسين، تاسعهم مهديّهم و قائمهم. لايفارقون كتاب الله و لا يفارقهم حتّى يردوا على رسول الله صلى الله عليه و اله حوضه

Amirul Mu’minin (Imam ‘Ali) pernah ditanya tentang makna sabda Rasulullah Saw, “Sungguh aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka yaitu Kitab Allah dan ‘itrah.”

“Siapa yang dimaksud ‘itrah?”, ditanyakan pada Imam.

Imam ‘Ali menjawab, “Aku, Al-Hasan, Al-Husain dan sembilan imam dari keturunan Al-Husain, dan yang kesembilan dari mereka adalah Mahdi Qaim mereka. Mereka tidak akan berpisah dari Kitab Allah dan Kitab Allah tidak akan berpisah dari mereka, sampai menemui Rasulullah Saw di haudh (telaga di surga).”

Berdasarkan penjelasan Sang Pintu Ilmu, yang dimaksud ‘itrah adalah Imam ‘Ali, Imam Hasan, Imam Husain, dan sembilan imam dari keturunan Imam Husain. Jadi total semuanya adalah dua belas imam.

Berikut urutan mereka secara turun temurun disertai gelarnya:
1. ‘Ali bin Abi Thalib (Al-Murtadha)
2. Hasan bin ‘Ali (Al-Mujtaba)
3. Husain bin ‘Ali (Sayyid Asy-Syuhada’)
4. ‘Ali bin Husain (Zainal ‘Abidin)
5. Muhammad bin ‘Ali (Al-Baqir)
6. Ja’far bin Muhammad (Ash-Shadiq)
7. Musa bin Ja’far (Al-Kazhim)
8. ‘Ali bin Musa (Ar-Ridha)
9. Muhammad bin ‘Ali (At-Taqi, Al-Jawad)
10. ‘Ali bin Muhammad (An-Naqi, Al-Hadi)
11. Hasan bin ‘Ali (Al-‘Askari)
12. Muhammad bin Hasan (Al-Mahdi, Al-Qaim)

Hadits Dua Belas Pemimpin

 
Terjawablah siapa ‘itrah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah Saw. Dua belas imam Ahlul Bait. Menarik, jumlah imam Ahlul Bait yang disampaikan sesuai jumlah pemimpin dalam hadist-hadits shahih lain. Tercatat dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, dan lainnya.

Shahih Bukhari, no. 7222:

جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «يَكُونُ اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا»، فَقَالَ كَلِمَةً لَمْ أَسْمَعْهَا، فَقَالَ أَبِي: إِنَّهُ قَالَ: «كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

Jabir bin Samurah berkata: Aku mendengar Nabi Saw bersabda, “Akan ada dua belas pemimpin”. Lalu beliau mengucapkan kalimat yang kami tidak dengar. Maka ayahku berkata, “Semua dari Quraisy.”

Shahih Muslim, no. 1821:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا يَنْقَضِي حَتَّى يَمْضِيَ فِيهِمِ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً»، قَالَ: ثُمَّ تَكَلَّمَ بِكَلَامٍ خَفِيَ عَلَيَّ، قَالَ: فَقُلْتُ لِأَبِي: مَا قَالَ؟ قَالَ: «كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

Dari Jabir bin Samurah berkata: Aku dan ayahku menemui Rasulullah Saw, lalu mendengar beliau bersabda, “Sungguh perkara (kepemimpinan agama) ini tidak akan runtuh sampai datang dua belas pemimpin”. Lalu beliau mengucapkan kalimat yang kurang kedengaran bagiku. Aku bertanya kepada ayahku, “Apa kata beliau?” Ayah menjawab, “Semua dari Quraisy.”

Sunan Tirmidzi, no. 2223:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَكُونُ مِنْ بَعْدِي اثْنَا عَشَرَ أَمِيرًا، قَالَ: ثُمَّ تَكَلَّمَ بِشَيْءٍ لَمْ أَفْهَمْهُ فَسَأَلْتُ الَّذِي يَلِينِي، فَقَالَ: قَالَ: كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ.

Dari Jabir bin Samurah berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Akan ada dua belas pemimpin sepeninggalku”. Lalu beliau mengucapkan sesuatu yang tidak aku pahamk. Maka aku bertanya pada orang yang di belakangku. Ia menjawab, “Semua dari Quraisy.”

Itu tiga hadits diantaranya. Dua  belas pemimpin sepeninggal Nabi Saw yang karenanya agama tetap tegak dan agung. Siapakah mereka? Tidak ada kesepakatan di sisi Sunni. Para ulama Sunni saling menyebutkan nama yang berbeda. Syi’ah menjawab misteri  itu. Bagi mereka, hadits dua belas pemimpin itu terjawab dengan silsilah emas para imam dari Ahlul Bait Rasulullah Saw.

Betul dalam hadits-hadits itu hanya disebutkan “dari Quraisy”. Tidak diperinci bahwa “dari Ahlul Bait.” Namun kami percaya Allah Ta’ala dan RasulNya selalu menghendaki yang terbaik. Mungkinkah Rasulullah Saw tidak memilih yang terbaik apalagi dalam perkara agama? Tidak. Yang terbaik dari Quraisy adalah Bani Hasyim. Yang terbaik dari Bani Hasyim adalah Ahlul Bait. Inilah di antara dasar keyakinan Syi’ah tentang dua belas pemimpin adalah dari Ahlul Bait.

Bukankah ‘itrah-Ahlul Bait juga disebut khalifah (pemimpin) dalam hadits tentang dua pusaka? Tentu hadits-hadits Nabi Muhammad Saw terkait satu sama lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s